Laman

Jumat, 03 November 2017

Makna Jihad




“Diizinkan (berperang) bagi orang-orangyang diperangi karena sesungguhnya mereka dizalimi. Dan sungguh, Allah Maha Kuasa menolong mereka itu.” (QS. Al-Haj : 40)

            Di dalam sejarah Islam tercatat Rasululahsaw melakukan 5 kali peperangan melawan kaum Quraisy, namun bukanlah menjadi tujuan beliau bahwa dengan peperangan itu orang-orang dapat menerima dan memeluk agama Muslim (Islam) karena pada hakikatnya tidaklah ada kaitan yang berarti antara peperangan dengan masuknya orang-orang Quraisy kepada pangkuan Islam.
            
            Diketahui bahwa masuknya Hz. Abu Bakar Ash-Shidiqra dalam pangkuan Islam bukanlah dengan pedang. Tetapi dengan akhlak yang diperlihatkan oleh Rasulullahsaw yakni dengan sifat jujur beliau hingga beliau digelari Al-Amin. Inilah yang membuat bergeloranya hati sahabat beliausaw yakni Hz. Abu Bakarra mencintai beliau dan tanpa ragu dan tanpa bertanya alasan apapun kepada Rasulullahsaw langsung meyakini pendakwaan beliausaw.
            
            Begitu juga dengan Hz. Umar bukanlah pedang yang mengancam nyawa beliau hingga beliau menerima Islam tetapi dengan keindahan-keindahan akhlak yang diperlihatkan oleh Hz. Rasulullahsaw, bagaimana sabarnya beliausaw dalam menelan setiap cacian, hinaan, dan kezaliman dengan senyuman penuh cinta dan kasih sayang hingga mewarnai umat beliau termasuk diantaranya adik Hz. Umarra sendiri yang telah menerima Islam menampilkan wajah Islam yang diajarkan sang Khatamun-Nabiyyin bagaimana niat Hz. Umar dalam keadaan emosi dengan pedang ditangan berubah lembut setelah melihat kesabaran sang adik dan lantunan-lantunan ayat Al-Qur’an yang begitu indah layak air yang menyirami api yang tengah membakar dan menghanguskan, hingga akhirnya Hz. Umar memeluk agama Islam.
            
           Bukanlah pedang atau berperang yang membuat para sahabat dan kaum Muslim lainnya menerima Islam tapi dengan keindahan akhlak beliau-lah orang-orang berbondong-bondong menerima Islam. Karena makna jihad sebenarnya adalah sesuai yang Rasulullahsaw ajarkan dan merupakan firman Tuhan yakni:
            
           “Maka janganlah engkau taati orang-orang kafir, dan berjuanglah terhadap mereka dengannya (Al-Qur’an) dengan (semangat) perjuangan yang besar.” (QS. Al-Furqon : 53)

            Yakni jihad yang besar adalah menyebarluaskan amanat Al-Qur’an. Jihad inilah yang diisyaratkan oleh Rasulullahsaw ketika kembali dari suatu gerakan militer dimana beliau bersabda kita telah kembali dari jihad kecil menuju jihad yang besar.
            
            Jadi bukanlah dengan mengangkat pedang dan berperang sehingga membuat orang-orang takut dan menerima Islam dalam keadaan terpaksa pada akhirnya. Bukanlah itu makna jihad yang sebenarnya, karena jihad yang dengan berperang atau disebut qital itu adalah sebuah izin yang diberikan oleh Allah Ta’ala kepada Rasulullahsaw atas dasar perlakuan buruk yang beliau dan umat beliau alami selama 13 tahun di Mekkah dengan kezaliman, keaniayaan, hingga membahayakan nyawa beliau dan umat beliau hingga memaksa beliau hijrah dan terusir dari kampung halaman beliau namun kaum musyrik tidak lantas berhenti tapi terus-menerus mengancam hidup beliau dan hidup umat dan keberlangsungan agama yang beliau bawa. Hingga akhirnya beliau diizinkan untuk mengangkat senjata. Oleh Allah Ta’ala untuk mempertahankan diri. Bukanlah serta-merta perintah dari Allah Ta’ala agar umat manusia mengangkat senjata maka diperintahkan kepada beliau untuk mengangkat senjata. Menakut-nakuti mereka dan memaksa mereka menerima Islam adalah sebuah kezaliman menyatakan Islam tersebar dengan pedang suatu bukti yang sangat nyata adalah seandainya Islam tersebar dengan pedang maka akan berapa banyak nyawa yang melayang menjadi bangkai-bangkai di jalanan ketika peristiwa Fatah Mekkah, seandainya mereka tidak mau menerima Islam mungkin mereka semua akan dibantai habis oleh pasukan Muslim pada saat itu. Namun bagaimana Hz. Rasulullah membuktikan bahwa Islam tersebar bukan dengan pedang, dengan ucapan beliau yakni, “Demi Allah hari ini adalah hari pengampunan. Kalian tidak akan mendapat hukuman dan celaan.” Ini adalah suatu bukti nyata bahwa pedang tidak bersuara untuk mengubah hati manusia untuk menerima Islam. Begitu juga yang disabdakan oleh Hz. Masih Mau’udas:
            
            “Saya ini miskin dan lemah ditangan saya tidak ada pedang dan tidak pula saya diutus untuk mengayunkan pedang dan tidak pula di diri saya terdapat perlengkapan perang namun pedang saya ada di langit. Revolusi agung yang saya inginkan adalah suapaya orang-orang tunduk kepada Allah Ta’ala dan beriman kepada wujudnya.”
            
             Hal ini juga yang disabdakan oleh Hz. Kahlifatul Masih V yakni jihad yang terbesar adalah mengajak manusia kepada jalan Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JAMAI Silaturahim ke GAI (Gerakan Ahmadiyah Indonesia)

Pada tanggal 22 Oktober 2017 pukul 10.00 WIB kami dari Forum Kajian Ilmu Hadits dan Fiqih mengadakan silaturahmi ke Gerakan Ahmadiyah Indon...